Korek api

berbagai macam cara menyalakan api, salah satunya dengan korek api..
untuk saat ini sudah banyak meraneka macam cara menghidupkan korek..

tau panasnya api ga??
api yang berwarna apa yang paling panas??
bagaimana kalo apinya berwarna-warni..
<apinya sedang galau mungkin ya>
wahahahahaha..

seperti gambar latar blog ku ini..
temanku berkata
GALAU MODE ON..

tapi ambil saja hikmah keGalauan itu..

Pesan Bagi Para Hakim

Pesan Bagi Para Hakim

Siapakah Abu Nawas? Tokoh yang dinggap badut namun juga dianggap ulama besar ini sufi, tokoh super lucu yang tiada bandingnya ini aslinya orang Persia yang dilahirkan pada tahun 750 M di Ahwaz meninggal pada tahun 819 M di Baghdad. Setelah dewasa ia mengembara ke Bashra dan Kufa. Di sana ia belajar bahasa Arab dan bergaul rapat sekali dengan orang-orang badui padang pasir. Karena pergaulannya itu ia mahir bahasa Arab dan adat istiadat dan kegemaran orang Arab", la juga pandai bersyair, berpantun dan menyanyi. la sempat pulang ke negerinya, namun pergi lagi ke Baghdad bersama ayahnya, keduanya menghambakan diri kepada Sultan Harun Al Rasyid Raja Baghdad. Mari kita mulai kisah penggeli hati ini. Bapaknya Abu Nawas adalah Penghulu Kerajaan Baghdad bernama Maulana.
Pada suatu hari bapaknya Abu Nawas yang sudah tua itu sakit parah dan akhirnya meninggal dunia. Abu Nawas dipanggil ke istana. la diperintah Sultan (Raja) untuk mengubur jenazah bapaknya itu sebagaimana adat Syeikh Maulana. Apa yang dilakukan Abu Nawas hampir tiada bedanya dengan Kadi Maulana baik mengenai tatacara memandikan jenazah hingga mengkafani, menyalati dan mendo'akannya, maka Sultan bermaksud mengangkat Abu Nawas menjadi Kadi atau penghulu menggantikan kedudukan bapaknya. Namun... demi mendengar rencana sang Sultan.

Tiba-tiba saja Abu Nawas yang cerdas itu tiba-tiba nampak berubah menjadi gila. Usai upacara pemakaman bapaknya. Abu Nawas mengambil batang sepotong batang pisang dan diperlakukannya seperti kuda, ia menunggang kuda dari batang pisang itu sambil berlari-lari dari kuburan bapaknya menuju rumahnya. Orang yang melihat menjadi terheran-heran dibuatnya.
Pada hari yang lain ia mengajak anak-anak kecil dalam jumlah yang cukup banyak untuk pergi ke makam bapaknya. Dan di atas makam bapaknya itu ia mengajak anak-anak bermain rebana dan bersuka cita.
Kini semua orang semakin heran atas kelakuan Abu Nawas itu, mereka menganggap Abu Nawas sudah menjadi gila karena ditinggal mati oleh bapaknya.

Pada suatu hari ada beberapa orang utusan dari Sultan Harun Al Rasyid datang menemui Abu Nawas.
"Hai Abu Nawas kau dipanggil Sultan untuk menghadap ke istana." kata wazir utusan Sultan.
"Buat apa sultan memanggilku, aku tidak ada keperluan dengannya."jawab Abu Nawas dengan entengnya seperti tanpa beban.
"Hai Abu Nawas kau tidak boleh berkata seperti itu kepada rajamu."
"Hai wazir, kau jangan banyak cakap. Cepat ambil ini kudaku ini dan mandikan di sungai supaya bersih dan segar." kata Abu Nawas sambil menyodorkan sebatang pohon pisang yang dijadikan kuda-kudaan.
Si wazir hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Abu Nawas.
"Abu Nawas kau mau apa tidak menghadap Sultan?" kata wazir
"Katakan kepada rajamu, aku sudah tahu maka aku tidak mau." kata Abu Nawas.
"Apa maksudnya Abu Nawas?" tanya wazir dengan rasa penasaran.
 "Sudah pergi sana, bilang saja begitu kepada rajamu." sergah Abu Nawas sembari menyaruk debu dan dilempar ke arah si wazir dan teman-temannya.

Si wazir segera menyingkir dari halaman rumah Abu Nawas. Mereka laporkan keadaan Abu Nawas yang seperti tak waras itu kepada Sultan Harun Al Rasyid.
Dengan geram Sultan berkata,"Kalian bodoh semua, hanya menghadapkan Abu
Nawas kemari saja tak becus! Ayo pergi sana ke rumah Abu Nawas bawa dia kemari dengan suka rela ataupun terpaksa."
Si wazir segera mengajak beberapa prajurit istana. Dan dengan paksa Abu Nawas di hadirkan di hadapan raja. Namun lagi-lagi di depan raja Abu Nawas berlagak pilon bahkan tingkahnya ugal-ugalan tak selayaknya berada di hadapan seorang raja.

"Abu Nawas bersikaplah sopan!" tegur Baginda.
"Ya Baginda, tahukah Anda....?"
"Apa Abu Nawas...?"
"Baginda... terasi itu asalnya dari udang !"
"Kurang ajar kau menghinaku Nawas !"
"Tidak Baginda! Siapa bilang udang berasal dari terasi?"
Baginda merasa dilecehkan, ia naik pitam dan segera memberi perintah kepada para pengawalnya. "Hajar dia ! Pukuli dia sebanyak dua puluh lima kali"
 Wah-wah! Abu Nawas yang kurus kering itu akhirnya lemas tak berdaya dipukuli tentara yang bertubuh kekar. Usai dipukuli Abu Nawas disuruh keluar istana. Ketika sampai di pintu gerbang kota, ia dicegat oleh penjaga.
"Hai Abu Nawas! Tempo hari ketika kau hendak masuk ke kota ini kita telah mengadakan perjanjian. Masak kau lupa pada janjimu itu? Jika engkau diberi hadiah oleh Baginda maka engkau berkata: Aku bagi dua; engkau satu bagian, aku satu bagian. Nah, sekarang mana bagianku itu?"
"Hai penjaga pintu gerbang, apakah kau benar-benar menginginkan hadiah Baginda yang diberikan kepada tadi?"
"lya, tentu itu kan sudah merupakan perjanjian kita?"
"Baik, aku berikan semuanya, bukan hanya satu bagian!"
"Wan ternyata kau baik hati Abu Nawas. Memang harusnya begitu, kau kan sudah sering menerima hadiah dari Baginda."
Tanpa banyak cakap lagi Abu Nawas mengambil sebatang kayu yang agak besar lalu orang itu dipukulinya sebanyak dua puluh lima kali.Tentu saja orang itu menjerit-jerit kesakitan dan menganggap Abu Nawas telah menjadi gila.
Setelah penunggu gerbang kota itu klenger Abu Nawas meninggalkannya begitu saja, ia terus melangkah pulang ke rumahnya. Sementara itu si penjaga pintu gerbang mengadukan nasibnya kepada Sultan Harun Al Rasyid.
"Ya, Tuanku Syah Alam, ampun beribu ampun. Hamba datang kemari mengadukan Abu Nawas yang teiah memukul hamba sebanyak dua puluh lima kali tanpa suatu kesalahan. Hamba mohom keadilan dari Tuanku Baginda."
Baginda segera memerintahkan pengawal untuk memanggil Abu Nawas. Setelah Abu Nawas berada di hadapan Baginda ia ditanya."Hai Abu Nawas! Benarkah kau telah memukuli penunggu pintu gerbang kota ini sebanyak dua puluh lima kali pukulan?"
Berkata Abu Nawas,"Ampun Tuanku, hamba melakukannya karena sudah sepatutnya dia menerima pukulan itu."
"Apa maksudmu? Coba kau jelaskan sebab musababnya kau memukuli orang itu?" tanya Baginda.
"Tuanku,"kata Abu Nawas."Hamba dan penunggu pintu gerbang ini telah mengadakan perjanjian bahwa jika hamba diberi hadiah oleh Baginda maka hadiah tersebut akan dibagi dua. Satu bagian untuknya satu bagian untuk saya.
Nah pagi tadi hamba menerima hadiah dua puluh lima kali pukulan, maka saya berikan pula hadiah dua puluh lima kali pukulan kepadanya."
"Hai penunggu pintu gerbang, benarkah kau telah mengadakan perjanjian seperti itu dengan Abu Nawas?" tanya Baginda.
"Benar Tuanku,"jawab penunggu pintu gerbang.
"Tapi hamba tiada mengira jika Baginda memberikan hadiah pukulan."
"Hahahahaha IDasar tukang peras, sekarang kena batunya kau!"sahut Baginda."Abu Nawas tiada bersalah, bahkan sekarang aku tahu bahwa penjaga pintu gerbang kota Baghdad adalah orang yang suka narget, suka memeras orang! Kalau kau tidak merubah kelakuan burukmu itu sungguh aku akan memecat dan menghukum kamu!"
 "Ampun Tuanku,"sahut penjaga pintu gerbang dengan gemetar.

Abu Nawas berkata,"Tuanku, hamba sudah lelah, sudah mau istirahat, tiba-tiba diwajibkan hadir di tempat ini, padahal hamba tiada bersalah. Hamba mohon ganti rugi. Sebab jatah waktu istirahat hamba sudah hilang karena panggilan Tuanku. Padahal besok hamba harus mencari nafkah untuk keluarga hamba."
Sejenak Baginda melengak, terkejut atas protes Abu Nawas, namun tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak, "Hahahaha...jangan kuatir Abu Nawas."
Baginda kemudian memerintahkan bendahara kerajaan memberikan sekantong uang perak kepada Abu Nawas. Abu Nawas pun pulang dengan hati gembira. Tetapi sesampai di rumahnya Abu Nawas masih bersikap aneh dan bahkan semakin nyentrik seperti orang gila sungguhan.

Pada suatu hari Raja Harun Al Rasyid mengadakan rapat dengan para menterinya.
"Apa pendapat kalian mengenai Abu Nawas yang hendak kuangkat sebagai kadi?"
Wazir atau perdana meneteri berkata,"Melihat keadaan Abu Nawas yang semakin parah otaknya maka sebaiknya Tuanku mengangkat orang lain saja menjadi kadi."

Menteri-menteri yang lain juga mengutarakan pendapat yang sama.
"Tuanku, Abu Nawas telah menjadi gila karena itu dia tak layak menjadi kadi."
"Baiklah, kita tunggu dulu sampai dua puluh satu hari, karena bapaknya baru saja mati. Jika tidak sembuh-sembuh juga bolehlah kita mencari kadi yang lain saja." 

Setelah lewat satu bulan Abu Nawas masih dianggap gila, maka Sultan Harun Al Rasyid mengangkat orang lain menjadi kadi atau penghulu kerajaan Baghdad. Konon dalam seuatu pertemuan besar ada seseorang bernama Polan yang sejak lama berambisi menjadi Kadi, la mempengaruhi orang-orang di sekitar Baginda untuk menyetujui jika ia diangkat menjadi Kadi, maka tatkala ia mengajukan dirinya menjadi Kadi kepada Baginda maka dengan mudah Baginda menyetujuinya.

Begitu mendengar Polan diangkat menjadi kadi maka Abu Nawas mengucapkan syukur kepada Tuhan.
"Alhamdulillah aku telah terlepas dari balak yang mengerikan.
Tapi.,..sayang sekali kenapa harus Polan yang menjadi Kadi, kenapa tidak yang lain saja."

Mengapa Abu Nawas bersikap seperti orang gila? Ceritanya begini:
Pada suatu hari ketika ayahnya sakit parah dan hendak meninggal dunia ia panggii Abu Nawas untuk menghadap. Abu Nawas pun datang mendapati bapaknya yang sudah lemah lunglai.

Berkata bapaknya,"Hai anakku, aku sudah hampir mati. Sekarang ciumlah telinga kanan dan telinga kiriku."
Abu Nawas segera menuruti permintaan terakhir bapaknya. la cium telinga kanan bapaknya, ternyata berbau harum, sedangkan yang sebelah kiri berbau sangat busuk.
"Bagamaina anakku? Sudah kau cium?"
"Benar Bapak!"
"Ceritakankan dengan sejujurnya, baunya kedua telingaku int."
"Aduh Pak, sungguh mengherankan, telinga Bapak yang sebelah kanan berbau harum sekali. Tapi... yang sebelah kiri kok baunya amat busuk?"
"Hai anakku Abu Nawas, tahukah apa sebabnya bisa terjadi begini?"
"Wahai bapakku, cobalah ceritakan kepada anakmu ini."

Berkata Syeikh Maulana "Pada suatu hari datang dua orang mengadukan masalahnya kepadaku. Yang seorang aku dengarkan keluhannya. Tapi yang seorang lagi karena aku tak suaka maka tak kudengar pengaduannya. Inilah resiko menjadi Kadi (Penghulu). Jia kelak kau suka menjadi Kadi maka kau akan mengalami hai yang sama, namun jika kau tidak suka menjadi Kadi maka buatlah alasan yang masuk akal agar kau tidak dipilih sebagai Kadi oleh Sultan Harun Al Rasyid. Tapi tak bisa tidak Sultan Harun Al Rasyid pastilah tetap memilihmu sebagai Kadi."
Nah, itulah sebabnya Abu Nawas pura-pura menjadi gila. Hanya untuk menghindarkan diri agar tidak diangkat menjadi kadi, seorang kadi atau penghulu pada masa itu kedudukannya seperti hakim yang memutus suatu perkara.
Walaupun Abu Nawas tidak menjadi Kadi namun dia sering diajak konsultasi oleh sang Raja untuk memutus suatu perkara. Bahkan ia kerap kali dipaksa datang ke istana hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan Baginda Raja yang aneh-aneh dan tidak masuk akal.

ENGLISH

GRAMMAR
        saya akan membagikan beberapa ilmu bahasa inggris untuk zurism, antara lain : 5 basic tense (tense yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari), VERB, dan lain-lain, semoga berguna untuk zurism.
selamat belajar!!

A. TENSE
1. Present Tense
1.1. Simple Present Tense.
menjelaskan peristiwa yang terjadi di waktu sekarang dalam bentuk sederhana atau suatu pekerjaan/perbuaan yang dilakukan BERULANG-ULANG, atau KEBIASAAN sehari-hari, atau peristiwa/perbuatan yang tidak ada kaitannya dengan waktu.

+  S - DO/DOES - Infinitive(V1) (s/es)
-   S - DO/DOES - NOT - Infinitive (V1)
?   DO/DOES - S - Infinitive (V1) ?

Example:
+ she work   atau   she does works     (penegasan)  
she doesn't work 
? does she work?


*we visit our friend every monday.
*the sun rises in the east.

1.2 Present Continous Tense.
menerangkan suatu perbuatan yang sedang berlangsung pada waktu sekarang, atau untuk menyatakan perbuatan yang bersifat sementara.

+  S - IS/AM/ARE - Present Participle (Verb1 ing)
-   S - IS/AM/ARE - NOT - Present Participle (Verb1 ing)
?   IS/AM/ARE - S - Present Participle (Verb1 ing) ?

example:
+ she is singing
- she is not singing / she isn't singing
? is she singing?

1.2 Present Perfect Tense.
menerangkan peristiwa yang terjadi pada waktu lampau yang masih ada hubungannya dengan masa sekarang, menyatakan peristiwa yang telah terjadi, menunjukan suatu perbuatan ulangan pada waktu yang tidak tertentu sebelum sekarang (before/already/ever/never/yet), menunjukan PERBUATAN YANG SELESAI PADA WAKTU YANG SINGKAT (at last/finally/just/recently).

+ S - HAVE/HAS - Past Participle (V3)
- S - HAVE/HAS NOT - Past Participle (V3)
? HAVE/HAS - S - Past Participle (V3) ?

example:
*she has taught english since five year ago
*I have seen it
*I have already seen him
*Finally, She has started to sing

2. Past Tense 
2.1 Simple Past Tense
digunakan untuk mengungkapkan tindakan/peristiwa yang sudah selesai dan  TIDAK BERKELANJUTAN pada suatu waktu yang terbatas di masa lalu. 

+ S - did - Past tense (V2)
- S - did not - Infinitive (V1)
? did - S - Infinitive (V1) ?

example:
*it rain yesterday, it didn't rain yesterday
*milions of years ago, Dinosaurs inhabited the earth.

3. Future Tense
3.1 Simple Future Tense
Menyatakan TINDAKAN TIDAK BERKELANJUTAN yang akan berlangsung di masa datang, Membuat suatu JANJI pada waktu yang akan datang, menunjukan SYARAT, MEMOHON kepada seseorang untuk melakukan sesuatu.

+ S - ( shall / WILL ) - Infinitive (V1)
- S - ( shall / WILL )  NOT - Infinitive (V1)
? ( shall / WILL ) - S - Infinitive (V1) ?

Example:
* he will post The letter tomorrow
* she will meet me by ten
* I will give you a good ring if you go with me

 B. VERB (Kata Kerja)
1. Auxiliary Verbs (Kata Kerja Bantu)
Auxiliary Verbs adalah kata kerja bantu yang diletakkan di depan kata kerja pokok untuk membentuk BENTUK WAKTU (Tense), ragam gramatikal (voice), dan modus (mood)

1.1 To be ( is, am are, was, were, been)
> Is dipakai orang ketiga tunggal (she,he,it).
> Am dipakai orang pertama tunggal (I).
> Are dipakai orang kedua dan jamak (you,we they)
> Be dipakai untuk membentuk kalimat pasif dan membentuk Future Countinous Tense untuk menyatakan perbuatan yang akan sedang terjadi dalam waktu yang akan datang.
> Was adalah bentk lampau dari am dan is.
> Were adalah bentuk lampau dari are
> Being sebagai kata kerja bantu dipakai untuk membentuk Continous Tense dalam kalimat pasif.
> Been dipakai untuk membentuk Present Perfect Continous Tense, Past Perfect continous tense dan kalimat pasif dalam bentuk Perfect tense.

1.2 Do (do, does, did)
> Do dan Does dipakai untuk membuat kalimat positif yang menyatakan PENEGASAN, TEKANAN, atau KESUNGGUHAN; kalimat negatif dan introgative (kalimat tanya) yang TIDAK ada TO BE atau kata kerja bantu lainnya. Does digunakan untuk orang ketiga tunggal (she,he,it).
ex. I do care with you. she does not love him. do you remember about me? 
> Did sebagai kata kerja bantu dipakai untuk membentuk PAST TENSE.
ex. I did see her yesterday.

1.3 Have ( have, has, had)
 > Have dan Has sebagai kata kerja bantu dipakai untuk membentuk Present Perfect Tense dan Present Perfect Continous Tense. Has dipakai sebagi kata kerja bantu untuk orang ke tiga tunggal (she,he,it).
ex. she has been teching for five years.
> Had sebagai kata keja bantu dipakai untuk membentuk Past Perfect Tense dan Past Perfect continous Tense.
ex. he had been watcing TV before I came

1.4 Can dan Could
1.5 May, Might, dan Must
1.6 Shall, Will, Should, dan Would
1.7 Ought
1.8 Need
1.9 Dare
1.10 Used to

2. Transitive Verbs

3. Intransitive Verb

C. PASSIVE VOICE

D. NOUN

E. PRONOUS

F. OTHER PRONOUS

G. DETERMINERS

H. ADJECTIVES

I. ADVERB

J. PREPOSITIONS
Powered By Blogger